Siapa di balik Surau.
Surau dibangun oleh orang-orang yang peduli pada ilmu Islam yang terpercaya — sebuah upaya yang berakar pada tradisi Al-Azhar dan disiplin pembuatan produk digital.
Sebuah pertanyaan, bukan sebuah fitur.
Ide Surau tidak lahir dari sebuah teknologi. Ia lahir dari satu keresahan yang tak bisa saya abaikan. Kita kini bertanya kepada AI tentang apa saja — termasuk bagian hidup yang paling pribadi dan sakral. Ia menjawab seketika, fasih, penuh percaya diri. Tapi tanyakan dari mana jawaban itu berasal, dan percaya dirinya runtuh.
Saya pernah menempuh studi di Al-Azhar, Kairo, sebelum memilih berhenti dan fokus membangun produk digital. Dua dunia itu — teks klasik dan pembuatan produk — bertemu di Surau. Sejak sketsa pertama, produk ini punya satu tugas yang dilayani oleh semua hal lain: jangan pernah biarkan seseorang mempercayai jawaban yang tak bisa ia verifikasi.
Maka saya merancang untuk verifikasi, bukan sekadar informasi. Saya juga merancang untuk menolak — dengan sengaja. Produk tentang iman yang dengan percaya diri mengarang jawaban lebih buruk daripada yang jujur mengakui batasnya. Membuat 'saya tidak tahu' terasa sebagai integritas, bukan kegagalan, adalah sebuah keputusan desain.
Mengirim yang salah dengan cepat tetap mengirim yang salah.
Saya membangun alur editorial — draf, tinjau, terbit — agar tak ada yang sampai ke pembaca tanpa ditinjau. Lalu saya mengajak seorang kawan, alumni Al-Azhar yang berpengalaman di bidang terkait, untuk meninjau data. Mesin memastikan tak ada yang tayang tanpa ditinjau; manusia memastikan yang ditinjau memang benar.
Saya juga belajar membaca sinyal negatif — dengan cara yang mahal. Saya pernah membiarkan sebuah proses membakar biaya jauh lebih besar dari seharusnya, dan membayar belasan kali lipat untuk pelajaran itu. Setelah membangun retrieval yang benar-benar bekerja, saya menghitung jujur biayanya pada skala — dan sebagai solo builder, angkanya tidak menutup. Maka saya pause bagian itu: bukan karena ia gagal, tapi karena memaksakan produk yang hanya bertahan bila saya mengabaikan angka adalah ego, bukan akal sehat.
Saya pun mengubah urutannya. Bukan retrieval pintar di atas data rapuh, tapi bangun dulu perpustakaan yang bersih dan terverifikasi — dimulai dari Al-Qur'an, di atas fondasi resmi terbitan pemerintah — lalu mendapatkan hak untuk melakukan retrieval di atasnya. Lebih lambat, tapi hanya urutan inilah yang menghasilkan sesuatu yang memang layak dipercaya.
Mesin menjaga proses, manusia menjaga kebenaran
Surau bukan kerja satu sisi. Ia adalah disiplin mesin dan penilaian manusia yang bekerja bersama.
Akar Al-Azhar
Data ditinjau alumni Al-Azhar yang berpengalaman di bidang terkait — Al-Azhar termasuk pusat keilmuan Islam paling dihormati di dunia.
Memimpin produk
Founder memimpin produk, desain, dan rekayasa — memastikan setiap lapis melayani satu tujuan: kepercayaan.
Proses, bukan janji
Alur draf → tinjau → terbit membuat 'terverifikasi' bisa dibuktikan, bukan sekadar diklaim.
Yang memandu produk
Hormati teks
Permukaan baca harus tenang, jelas, dan hati-hati saat menampilkan Al-Qur'an dan materi klasik.
Verifikasi, bukan volume
Satu jawaban yang bisa ditelusuri ke halaman nyata lebih berharga dari seribu jawaban fasih yang harus dipercaya buta.
Jujur soal batas
Mengakui 'ini tidak ada di sumber' adalah integritas — dan kami merancangnya agar terasa demikian.
Bangun pelan, bangun yang layak dipercaya.
Baca visi lengkapnya, atau mulai dari yang sudah nyata hari ini.