Surau.Org

Fotografi

Alhas K. Ridhwan asked 2 bulan ago
(Last Updated On: 08/03/2019)

Hai Surau.Org! Bagaimana hukum fotografi menurut Islam?

1 Jawaban
Best Answer
Admin Surau.Org Staff answered 2 bulan ago
(Last Updated On: 08/03/2019)

Alhamdu lillah, segala puji bagi Allah Ta’ala, Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan Salam untuk Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Amma Ba’du :
Semua gambar yang dihasilkan dengan merekam pantulan cahaya kemudian dipindahkan ke sebuah benda yang mencetak mirip seperti citra aslinya, baik gambar itu langsung jadi atau tidak langsung (menempatkan gambar terlebih dahulu pada lempeng plastik yang disebut SD atau Micro SD kemudian dicetak) BUKAN-lah pengertian gambar sebagaimana yang dimaksud oleh teks-teks agama yang diterangkan oleh Rasulullah SAW.
Gambar yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW itu tentu dipahami dengan sangat mudah oleh para sahabat, dengan Bahasa Arab yang berlaku pada saat Hadits tersebut diucapkan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW telah telah melarang dan mengingatkan ummatnya, bahwa para pembuat gambar akan dihukum oleh Allah di Hari Kiamat, serta diminta untuk meniupkan ruh ke dalam gambar yang ia buat. Para penggambar adalah yang paling besar ‘adzabnya di Hari Kiamat serta Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar. Semua kata gambar dalam hadits tersebut ialah gambar yang dipahami dengan mudah oleh lidah orang Arab, sedangkan foto (fotografi) yang mulai populer pada abad ke 13 Hijriyah ini belum pernah bangsa Arab mengetahui istilah perkataannya sebelum ini, tidak ditemukan definisi “fotografi” dalam teks-teks syar’i (agama) tidak pula dalam kamus-kamus ‘Arab sebelumnya.
Dengan demikian, gambar yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits yang beliau sebutkan bahwa gambar itu haram ialah gambar yang berupa pahatan dari batu, dari tanah, atau dari kayu, serta dari alat tulis yang menggunakan tinta, dan diolah dengan kepiawaian goyangan tangan.
Adapun selain itu, seperti penamaan gambar pada fotografi bukanlah gambar yang dimaksud oleh hadits. Sebab gambar dalam fotografi hanyalah pantulan dan pembalikan dari visual yang sebenarnya seperti yang telah kita lihat di dalam cermin. Andaikan fotografi dengan menggunakan kamera itu haram, sudah barang tentu melihat wajah di cermin juga haram, sebab kita maklum Rasulullah SAW memiliki cermin dan beliau juga mengajarkan do’a saat kita bercermin.
Kita saat melihat gambar hasil fotografi tidak mungkin mengatakan, siapa yang menggambar foto ini dan membuat detail warnanya? Melainkan yang menggambarnya hanyalah sebuah kamera yang bisa dilakukan oleh anak kecil, remaja maupun dewasa dan siapa saja. Tidak pula kita bisa mengatakan saat foto dicetak bahwa ini adalah gambar yang dibuat oleh si Fulan, tapi kita hanya bisa mengatakan bahwa foto ini diambil oleh si Fulan.
Berpijak pada hal ini, maka hukum gambar yang dihasilkan oleh kamera berupa fotografi tidaklah Haram, kita boleh melihatnya. KECUALI gambar atau foto yang benar-benar dilarang oleh teks agama untuk melihatnya seperti ‘aurat. Oleh sebab itu, apa yang dibolehkan kita melihatnya tentu boleh juga untuk disimpan dan diabadikan sebagai kenang-kenangan dan untuk tujuan-tujuan yang lain. Wallahu waliyut taufiq wal hidayah. [Surau.Org]